Selamat Datang di Web. Natsir Azah. Kami berikan informasi seputar pendidikan dan informasi-informasi penting lainnya. Terimakasih atas kunjungannya. Saran dan masukan anda sangat kami harapkan untuk penyempurnaan kedepan.

Rabu, 23 Januari 2013

Bujang Munang (Kalimantan Barat) “untuk dewasa”



Alkisah pada zaman dahulu di Nanga Serawai, daerah Kalimantan Barat, pernah hidup seorang wanita muda bernama Darah Muning. Pekerjaan sehari-harinya adalah menenun kain di rumah panggungnya.
Pada suatu hari tanpa disangka-sangka Darah Muning telah melahirkan seorang bayi lelaki. Tidak seorang pun tetangganya di sana yang mengetahui akan ayah bayi yang dilahirkan karena Darah Muning sangat merahasiakannya.

Putranya itu diberi nama Bujang Munang. Ia berkembang menjadi anak yang bertubuh tegap dan berotak cerdas. Dalam permainan, ia selalu mengungguli kawan-kawan sebayanya, sehingga mereka sering mengolok-oloknya sebagai anak haram jadah.
Perihal tuduhan yang keji itu pernah ditanyakan Bujang Munang kepada bundanya. Jawab ibunya adalah bahwa ayahnya sebenarnya ada, hanya pada ketika itu sedang merantau jauh, sehingga tidak dapat bersama-sama dengan mereka.

Pada suatu hari Darah Muning pada waktu sedang menenun, karena ceroboh, teropongnya jatuh ke bawah terus masuk ke kolong rumah panggungnya. Berhubung udara pada siang itu sangat panas, Darah Muning segan untuk turun ke bawah rumah untuk mengambilnya. Ia meneriaki putranya, yang berada di bawah rumah panggung, untuk memungutnya. Namun, karena Bujang Munang pada waktu itu sedang asyik bermain, ia tidak menghiraukan seruan ibunya. Dalam kemarahannya, ia telah melontarkan sekerat kayu ke arah kepala putranya, sehingga menimbulkan luka dalam yang membekas setelah sembuh.
Beberapa tahun kemudian Bujang Munang telah tumbuh menjadi seorang remaja yang gagah dan tampan. Karena tidak tahan akan penghinaan yang terus-menerus diperolehnya dari para remaja lainnya, walaupun pada waktu itu usianya masih muda, ia berkeputusan merantau mencari ayahandanya.
Mula-mula ibunya melarang kepergiannya, namun karena sudah teguh keinginannya, maka akhirnya ibunya pun merelakan kepergiannya. Bujang Munang pun berangkatlah.
Pulau demi pulau dijelajahi, namun ayahnya tidak dapat dijumpainya juga. Bertahun-tahun telah lewat, sehingga pada akhirnya, di luar tahunya, ia telah tiba kembali ke desa asalnya. Hal ini dapat terjadi karena keadaan desanya telah jauh berubah.
Setelah beberapa waktu berada di Nanga Serawai, Bujang Munang telah berkenalan dengan seorang wanita yang teramat cantik. Celakanya, wanita itu ternyata adalah Darah Muning, ibu kandungnya sendiri. Kedua belah pihak tidak sadar akan hal itu, sehingga mereka saling jatuh cinta dan kemudian menikah.
Pada suatu ketika kepala Bujang Munang terasa sangat gatal, maka ia minta istrinya untuk mengutuinya. Ketika sedang asyik menangkap kutu di atas kepala suaminya, Darah Muning menemukan cacat bekas luka di atas kepalanya, sehingga mengingatkan kepadanya akan peristiwa beberapa tahun yang lalu, sewaktu ia dalam keadaan lupa diri telah melukai putranya. Kepada suaminya itu, Darah Muning segera menanyakan peristiwa terjadinya luka itu. Setelah Bujang Munang selesai menuturkan kisah terjadinya luka pada kepalanya, Darah Muning tidak syak lagi bahwa yang dikawini ini adalah putra kandungnya sendiri.
Keadaan celaka itu segera diberitahukan kepada “suami”-nya. Karena kedua insan ini telah telanjur menjadi suami istri, dan tak seorang pun dari mereka yang bersedia untuk bercerai, maka hal itu sangat merisaukan hati mereka. Yang sangat merisaukan mereka adalah bahwa perkawinan sumbang ini akan dikutuk para dewa.
Atas nasihat orang-orang tua desa, mereka berkeputusan untuk mendirikan sebuah panggung tinggi yang disebut posa, untuk menyembahkan sesajian mereka kepada para dewata. Pembuatan panggung itu langsung ditangani Bujang Munang sendiri. Namun malang baginya, sewaktu membelah kayu tiba-tiba kapak yang diayunkan meleset jatuh melukai alat kelaminnya sehingga mengeluarkan banyak darah. Melihat kejadian ini, Darah Muning segera memegang dengan kencang alat kelamin suaminya dengan maksud agar darah dapat segera berhenti mengalir.
Rupanya perbuatan ini dianggap tidak senonoh oleh para dewata, sehingga menimbulkan amarah mereka. Tiba-tiba udara menjadi gelap gulita, petir kilat bergelegar sambung-menyambung. Setelah udara cerah kembali seperti sedia kala, terlihat bahwa Bujang Munang, Darah Muning, dan panggung persembahan sesajian mereka telah berubah menjadi batu.
****
*Termasuk contoh cerita yang mengandung tipe Oedipus. Cerita lain bertipe ini adalah dongeng Sang Kuriang atau disebut juga “Legenda Terjadinya Gunung Tangkubanperahu” dari Jawa Barat, mite “Prabu Watu Gunung” dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.
sumber :
https://www.facebook.com/KDdanCR

1 komentar:

  1. setau saya nama ibu nya adalah DARA muning, bukan DARAH muning

    BalasHapus