Selamat Datang di Web. Natsir Azah. Kami berikan informasi seputar pendidikan dan informasi-informasi penting lainnya. Terimakasih atas kunjungannya. Saran dan masukan anda sangat kami harapkan untuk penyempurnaan kedepan.

Rabu, 23 Januari 2013

Legenda Batu Banama di Bukit Tangkiling (Kalimantan Tengah)



Bukit Tangkiling terletak kurang lebih 34 Km dari kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Bukit Tangkiling yang tingginya kurang lebih 500 m , dipercaya menyimpan berjuta legenda dan kekuatan magis. Berdiri kokoh, menjulang langit di perbatasan Kelurahan Banturung-Tangkiling Kecamatan Bukit Batu, Palangkaraya. Perlu waktu kurang lebih 40 menit untuk mencapai puncaknya.

Tempat ini biasanya ramai dihari-hari libur karena banyak orang yang berekreasi ke tempat ini, di Bukit Tangkiling terdapat sebuah batu yang berbentuk seperti perahu, konon ceritanya pada dahulu kala batu ini adalah sebuah perahu yang berubah menjadi batu (basaluh) oleh yang Maha kuasa karena terjadinya sebuah pali (pantangan) ceritanya hampir mirip dengan legenda Sangkuriang dan Watu Gunung.
Konon, dahulu, daerah sekitarnya berupa sungai, seluas mata memandang, yang tampak air semata. Bukit dan daratan sekitarnya terbentuk karena kutukan.
 *******
Pada masa lampau Pulau Kalimantan merupakan bagian dari lautan yang  daratannya hanya sedikit yaitu daerah tengah dan daerah timur pulau borneo sekarang.
Saat itu terdapat kampung di daratan yang terletak di tepi Sungai Sebangau, hiduplah seorang seorang janda yang ditinggal mati suaminya dengan anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun. Janda ini dikenal dengan nama Bawi Kuwu (berarti wanita cantik dan awet muda).

Pada suatu hari, ketika si anak sedang bermain bersama teman – temannya, dia merasa lapar dan pulang ke rumah untuk makan.
Sesampainya di rumah, didapatinya ibunya sedang memasak nasi goreng yang digoreng tanpa minyak (bari sanga). Mencium aroma masakan yang sedap itu, si anak tidak sabar ingin segera makan. Dia menangis dan merengek-rengek pada ibunya... Bawi Kuwu mencoba untuk tidak menghiraukan rengekan anaknya, tapi lama kelamaan habis juga kesabarannya. Dengan marah dia mengayunkan solet (suruk : alat buat menggoreng) yang secara tidak sengaja menghantam kepala anaknya, sehingga mengalir darah segar. Si anak merasa kaget dan kesakitan, dia berlari keluar dari rumah, dia merasa ibunya sudah tidak menyayangi dirinya lagi.
Melihat anaknya yang lari keluar rumah, Bawi Kuwu segera mengejarnya tapi dia kalah cepat. Bawi Kuwu mencari anaknya ke sana kemari, tapi tidak berhasil menemukan anaknya juga. Dia menyesali dirinya karena telah memukul kepala anaknya yang menyebabkannya kehilangan anaknya satu-satunya itu.
****
Sementara itu si anak bersembunyi di atas kapal yang sedang singgah di dermaga. Kapal itu berasal dari Cina, yang membawa muatan dagangan keramik untuk dijual di kampung itu. Si anak tidak tahu bahwa kapal itu sudah selesai bongkar muat di dermaga itu. Sudah terlambatlah baginya untuk kembali ke kampungnya saat kapal itu melepas sauh dan berlayar kembali ke negeri Cina.
Saat Kapten Kapal berkeliling memeriksa kapalnya, dia menemukan si anak yang bersembunyi di balik suatu peti. Kapten itu bertanya, "Hai anak kecil, dari mana kamu berasal, dan mengapa kau ada di kapalku?"
Anak itu menjawab dengan gemetar ketakutan, "Saya melarikan diri dari rumah tuan..."
Kapten itu memandangnya dengan penuh selidik, "Mengapa kepalamu berdarah?"
Anak itu menjawab, "Karena dipukul oleh ibu saya, karena itu saya melarikan diri dari rumah, saya merasa bahwa ibu saya tidak menginginkan saya lagi."
Kapten itu kemudian berkata, "Baiklah, karena kau tidak mungkin kembali ke kampungmu, maka ku ijinkan kau untuk ikut kapalku. Tapi, kau harus bekerja seperti anak buahku yang lain."
Kemudian oleh Kapten kapal, anak itu dibawa menghadap Saudagar pemilik kapal itu. Saudagar menyuruh supaya luka di kepala anak itu dirawat sampai sembuh. Dan oleh Saudagar kapal, anak itu diberi nama Kilin.
Kilin tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan kuat. Selain pandai, dia juga rajin bekerja. Saudagar semakin sayang padanya, karena dia tidak  mempunyai seorang anakpun, Kilin diperlakukan seperti anaknya sendiri. Kilin dididik dengan berbagai ilmu.
Setelah dewasa, Kilin pun dipercaya untuk berlayar ke negara-negara tetangga untuk menjual dagangan mereka. Bersama Kapten kapa yang menemukannya dulu, mereka berlayar dari negeri ke negeri, dari pulau ke pulau dan dari laut ke laut serta mengarungi samudera hingga sampailah mereka ke tempat kampung si Kilin tadi berasal, di tepi sungai Sebangau.
Saat mereka singgah ke kampung ini terlihatlah oleh Kilin seorang wanita cantik yang membawa barang-barang hasil bumi untuk ditukarkan pada dagangan yang dibawa kapal miliknya. Saat itu lah Kilin jatuh cinta pada wanita itu.
Segera Kilin menghampiri wanita itu dan bertanya, "Hai gadis cantik, siapakah namamu?"
Wanita itu menjawab dengan malu-malu, "Bawi Kuwu, tuan."
Kilin yang terpesona dengan kecantikan wanita itu bertanya, "Maukah kau menjadi istriku?"
Awalnya Bawi Kuwu enggan menerima lamaran Kilin yang masih muda itu, karena dia seorang janda.
Tapi Kilin yang sedang dimabuk cinta, tidak peduli akan hal itu. Dia tetap berkehendak untuk mengawini wanita cantik itu.
Setelah menikah ia membawa Bawi Kuwu ke kapalnya, pada saat itu kapal besar disebut dengan nama Banama oleh masyarakat Dayak dan pemiliknya disebut Bandar.
Sebelum berangkat tidur, Kilin merebahkan kepalanya di pangkuan Bawi Kuwu. Bawi Kuwu mengelus-elus kepala suaminya dengan lembut...  Saat itulah dia menemukan bekas luka di balik rambut suaminya.
Bawi Kuwu bertanya, "Suamiku, mengapa ada bekas luka di kepalamu?"
Kilin menjawab, "Oh, luka itu aku dapat karena dipukul oleh ibuku dengan solet... karena itu pula aku melarikan diri dari rumah, karena aku merasa ibuku sudah tidak mencintaiku lagi! Untunglah aku bertemu dengan Saudagar Cina yang baik hati, yang mendidikku sampai aku dewasa..."
Betapa terkejutnya Bawi Kuwu mendengar cerita suaminya itu... dengan wajah pucat dia berkata, "Akulah ibumu yang memukulmu itu!"
Kilin bangkit dengan marah, "Bohong! Mana mungkin ibuku masih muda dan cantik seperti kamu? Ibuku pasti sudah tua dan keriput!"
Bawi Kuwu menjawab, "Kecantikanku ini adalah anugerah dari Ranying Hatalla."
Kilin menertawakan can berkata, "Bila yang kau katakan itu benar, biarlah Ranying Hatalla yang membuktikannya!"

Esoknya Kilin menggelar upacara dengan mendirikan Sangkaraya. Banyak orang penduduk kampung itu yang diundang dalam upacara tersebut. Mereka beramai-ramai menikmati hidangan makanan yang disediakan di sana.
Di tengah upacara itu berlangsung, tiba- tiba datanglah angin ribut yang hebat dan awan tebal sekali.Petir sambar menyambar, bunyi guntur bergemuruh, langit gelap gulita... terjadilah hujan badai yang sangat hebat.
Kilin segera berlari ke kapalnya yang berlabuh di sungai Sebangau. Di tengah badai itu, kapal (banama) yang dimiliki Kilin berubah menjadi batu besar yang bentuknya mirip seperti kapal, yang kemudian dikenal dengan nama Batu Banama.
Sangkaraya yang didirikan di tengah kampung berubah menjadi Bukit Tangkiling yang paling tinggi puncaknya, di sana terdapat Batu Kapit Dosa dengan Bawi Kuwu yang terjebak hidup-hidup di dalam batu tersebut.
Selanjutnya da semacam upacara penghormatan atau ritual yang dilakukan dekat batu itu, fungsinya meminta pengampunan atas dosa yang telah dilakukan. Sesaji turut dihadirkan, terhampar bermacam kue tradisional dan membakar kemenyan. Semua yang hadir dalam upacara itu membaca doa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.
Menurut kepercayaan setempat, bila seseorang berbuat dosa, maka tidak akan bisa melewati sela kedua batu itu.
Sekarang ini Bukit Tangkiling ini berada di tepi Sungai Rungan dan di kaki bukit Tangkiling ada sebuah desa yang bernama Desa Tangkiling. Bukit Tangkiling kini telah menjadi objek wisata Kalimantan Tengah.
Konon peristiwa ini terjadi pada masa dinasti Tang, maka lokasi peristiwa ini dinamai Tangkilin, penggabungan dari kata Tang dan Kilin, yang penyebutannya berubah menjadi Tangkiling.


Sumber : https://www.facebook.com/KDdanCR
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar